28/01/2014

Quo Vadis Tanggungjawab Diksar?

DIKSAR PIN ke-20 SMK Penerbangan Yogyakarta 2012 - http://smkpenerbanganjogja.sch.id/


Dipikir-pikir, organisasi paling bebas merdeka itu ya organisasi Pencinta Alam dan sejenisnya. Mungkin, kebebasan itu diberikan karena dinilai mereka sekedar organisasi hobi pengisi waktu senggang. Sama halnya dengan perkumpulan ibu-ibu arisan. Tidak ada induk organisasi, pun tidak ada lembaga pemerintah yang mengayomi.

Organisasi Pencinta Alam tak diakui sebagai cabang olahraga. Beda dengan dansa dan main kartu yang masuk dalam daftar anggota KONI. Negara senang dan diuntungkan, karena Pencinta Alam suka rela mengibarkan panji negara ke luar negeri. Karena organisasi Pencinta Alam suka rela mendidik anak bangsa menjadi orang baik-baik. Sungguh tidak merepotkan. Jika tak percaya, sana tanya sama sekretaris Kabinet, apa pernah Presiden membahas Pencinta Alam? No way…

Sayangnya, kebebasan buat ngurus diri sendiri itu mulai menunjukkan ekses. Tanggungjawab yang diamanahkan mulai kendor. Berbanding terbalik dengan kemajuan teknologi dan keilmuan yang kian pesat. Tali dadung digantikan kermantel, morse diganti handphone. Buku-buku panduan sudah bertebaran, baik edisi cetak maupun e-book. Sayangnya, para Pencinta Alam banyak yang kedodoran dalam bahasa.

Ekses yang terjadi antara lain melakukan kegiatan Diksar tanpa didasari metodologi yang benar, yang standar. Karena memang tidak ada standarisasi untuk Diksar Pencinta Alam di negeri ini. Anak orang mau mati apa mau cacat tak peduli. Sebab tokh mayoritas keluarga korban biasanya ‘mengikhlaskan’ tanpa banyak tanya ini-itu, apalagi lapor polisi. Sebagai antisipasi, peserta Diksar disodori Surat Pernyataan Orang Tua: tidak akan menuntut bilamana terjadi sesuatu yang tak dikehendaki.

Dulu, cara-cara itu masih bisa diterima karena teknologi dan ilmu tak secanggih sekarang. Boro-boro tau bagaimana mengatasi ‘objective danger’, bahkan bahaya yang sudah diprediksi saja masih bisa terulang. Sekarang, ketika Collin Mortlock, David J. Ball, dan kawan-kawan Adventural-author mau berbagi ilmu, kasus-kasus kecelakaan pada Diksar dengan mudah bisa dibedah. Sohib saya Dadang Abdul Azis bilang, “Jika terjadi kecelakaan pada Diksar, itu bukan kesalahan siswa. Itu kesalahan Pelatih yang bermuara kesalahan panitia.”

Tercatat telah terjadi empat kematian siswa Diksar dalam rentang waktu relatif pendek. Sebelum tragedi Welirang dan Gunung Salak, didahului Diksar Relawan di Ciwidey dan Diksar yang diselenggarakan sebuah Mapala di Bandung. Lewat informasi berita media, menggiring kepada kesimpulan bahwa Penyelenggara cenderung ngeles ketimbang elegan mengaku bertanggungjawab. Itukah sikap moral Pencinta Alam yang katanya gagah perkasa berani menghadapi resiko serta tantangan? Amboi…amboi…

Jika organisasi-organisasi Pencinta Alam tidak berbenah diri untuk menghindari kematian demi kematian siswa Diksar, percayalah! bulan madu kebebasan akan segera berakhir. Apresiasi masyarakat akan berubah jadi cibiran. Prosedur pelaksanaan Diksar akan berbelit-belit, tak mustahil butuh dana ekstra buat pelicin pemberi ijin.

Ini saatnya organisasi Pencinta Alam melakukan evaluasi, konsolidasi, dan jangan sungkan untuk saling berbagi. Last but not least, justru sikap bertanggungjawab itu bagian dari karakter Pencinta Alam sejati.
Camkan!
 
Sumber:
Lagi-lagi postingan inspiratif kang Nondi Eff

0 komentar:

Post a Comment