20/12/2013

KULIAH JUM’AT KANG NONDI: KONDOM, JILBAB, DAN GUNUNG

Situ Bungur menyambut matahari
Kata kondom berkonotasi miring, sebab menggiring pikiran kepada perkara yang tidak baik. Apalagi sejak pemerintah cq Kementerian Kesehatan membagi-bagi kondom secara gratis, khususnya untuk kalangan kampus. Maksudnya mudah diduga: mencegah mahasiswa beranak-pinak karena kumpul kebo, atau mencegah mereka terkena HIV akibat terlibat praktek prostitusi. Upaya Kementerian menuai protes. Padahal jika Bapak/Ibu/Saudara pernah membaca buku “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” yang terbit tahun 2003, bukan mustahil nasib Nidah Kirana –tokoh kisah itu- membentuk arus protes yang berbeda.

Kata jilbab berkonotasi positif karena terkait perintah Gusti Allah. Tidak tanggung-tanggung ujian buat Kapolri Jenderal Polisi Sutarman. Baru sebulan jadi Kapolri, sudah dihadapkan dengan amanah Gusti Allah pada QS Al-Ahzab:59 dan QS An-Nur:31 tentang perintah mengenakan jilbab.

Tak terbayangkan siapa yang akan membela Pak Tarman di peradilan akhirat nanti. Selain catatan malaikat Raqib dan Atid, Polwan muslim, FPI, juga status fb kawan saya Kang Setiabudi dan Kang Arifin Supriatna yang turut memprotes, bisa jadi alat bukti memberatkan. Makanya hati-hati menulis status.

Kemungkinan pembelaan muncul dari Presiden SBY sebagai atasan. Lagipula Pak SBY pun lebih suka rambut ibu negara berurai lepas, membuat sobat saya Ustadz Badruddin kecewa berat karena hadiah kerudung buat ibu negara yang ia kirim ke istana tak pernah dipakai. Setidaknya ia tak lihat pada penampilan Ibu Ani di televisi. Saya bilang, mana mau ibu negara pakai kerudung yang ente beli di Pasar Cicadas. Nyengir dia.

Isu kondom dan jilbab polwan hanya dua contoh peristiwa yang menyesakkan dada. Belum lagi muncul warta gubernur berjilbab yang dicokok KPK. Aduhai sedihnya hati ini, sekarang bukan lagi disebabkan karena gagal panen dan sedikitnya jamaah shalat shubuh di masjid. Melainkan karena kebijakan penyelenggara negara yang tidak empati terhadap nurani rakyat. Perilaku penyelenggara negara yang berpotensi jadi dosa pengguna fesbuk lewat celaan, sindiran, dan pergunjingan yang jelas-jelas dilarang Gusti Allah. Haduh.

Maka pantaslah kita iri kepada kawan-kawan yang sering naik gunung, tidur di hutan. Mereka itu terhindar dari pancingan berita media massa. Terjauhkan dari aura buruk kemaksiatan di kota. Dari kekesalan akibat aliran listrik ketika asik nonton Barca versus Madrid. Dari tayangan infotainment dan goyang Dewi Persik. Dari polemik Sunni - Syi’ah dan pro-kontra ucapan selamat natal. Duh, betapa sabar Gusti Allah menyaksikan manusia berebut kebenaran milik-Nya.

Maka pantaslah sesekali pergi ke gunung, tidur di hutan. Ber-iqra atas ayat-ayat Qauniyah yang terbentang di alam bebas. Alam yang egaliter, ikhlas menerima perbedaan dalam harmoni konfigurasi flora-fauna yang sanggup hidup berdampingan. Tinggallah sejenak-dua jenak di sana, di antara rerumputan, pohon, angin, dan kabut yang bertasbih tiada henti. Niscaya ada keberkahan. Sebelum Gusti Allah menganulir derajat mulia bangsa manusia, lalu memberikannya kepada pohon kelapa yang multiguna.

Jika itu terjadi, apa bedanya manusia dengan Sigung? Binatang seperti kita-kita ini. Makan daging, buah-buahan, dan suka kentut.


sumber: Postingannya Kang Nondi Eff

0 komentar:

Post a Comment