16/12/2013

Adventure Writing: Membuat Ekspedisi bukan Sekadar Masturbasi

ilustrasi / somekingskent.blogspot.com
Sebuah tim ekspedisi meminta saya (Nondi Eff, red) untuk membekali pengetahuan Adventure Journalism, jurnalistik petualangan. Semangat yang patut diapresiasi di tengah kebiasaan mencatat bagi bangsa besar ini belum membudaya. Itu sebabnya ketika negara lain mengklaim karya-karya hebat ‘made in Indonesia,’ kita susah membantah karena miskin dokumentasi sebagai alat bukti. “Bangsa kita lebih suka ngomong daripada nulis,”ujar dosen sableng Andi Daging suatu hari.

Begitupun dalam hal perjalanan, pengembaraan, petualangan. Naskah asli pengelana Bujangga Manik yang ditulis pada daun nipah, sejak tahun 1600an malah disimpan Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford. Hasil ekspedisi yang dilakukan pada abad modern pun jarang yang dipublikasikan, sehingga manfaatnya tak dapat diperoleh khalayak. Atau, tidak menarik untuk dibaca karena penyajiannya identik dengan laporan, sarat subyektivitas ego penulis, minim informasi, dan tidak mengandung hikmah.

Tapi menyulap tim ekspedisi jadi penulis dalam waktu empat jam adalah kemustahilan. Dengan 'oplas idung lo bisa mancrit' dalam sehari. Keterampilan tidak bisa ditempel seperti itu. Anda bisa bikin semur jengkol dalam tempo singkat, namun untuk membuatnya marketable seperti buatan Ma Uneh, masih perlu trial and error. Tidak juga cukup bermodal bakat, sebab bakat yang tidak diasah bagai kembang yang tak mekar. Garing. Maka materi Adventure Writing bagi tim ekspedisi tak bisa disamakan dengan materi peserta kursus Adventure Journalism yang berjenjang dari basic sampai advance.

Hal pertama yang perlu disampaikan adalah memberikan penekanan, bahwa memublikasikan hasil ekspedisi itu bisa merubah orang lain dalam konotasi kebaikan. Menambah wawasan pembaca, membangkitkan kesadaran masyarakat, menumbuhkan sikap positif publik, memberikan kontribusi bagi penerimaan pendapatan daerah, bahkan mendorong kebijakan Presiden. Dari sisi religi, karya publikasi ekspedisi itu adalah sarana ibadah. Selama pembaca mengambil manfaat, konsep multilevel pahala pun automatically berjalan, dicatat malaikat.

Ekspedisi sekecil apapun mengandung muatan ilmu-pengetahuan. Implementasi kaidah-kaidah manajemen, baik administratif, teknis, maupun manajemen konflik. Masalah-masalah teknis di lapangan dan cara penyelesaiannya, keunikan-keunikan yang ditemui, kearifan lokal, potensi dan ancaman lingkungan yang belum diketahui pengelola negara, sampai jalur akses yang bisa dirujuk petualang lain. Itu semua layak diolah sebagai bahan penulisan. Juga anekdot-anekdot yang terjadi selama perjalanan.

Hal kedua, bagaimana mengorganisir tim sehingga bisa menghasilkan karya tulis. Syukur jika semua pandai menulis. Andaipun tidak, semua personil bisa diberdayakan sebagai pengumpul informasi. Perlu pembagian tugas agar informasi tidak terlalu overlap. Cukup satu-dua orang saja yang jadi chief, yang meramu semua bahan menjadi siap saji.

Bila tak seorang pun becus menulis, itu pun bukan halangan. Tim bisa menyerahkannya kepada ghostwriter (seperti saya - Nondi Eff, red), tentu dengan negosiasi bagi hasil nan adil-bijaksana. Cara ini dilakukan Sultan Maroko sewaktu meminta Ibnu Juzay menuliskan perjalanan Ibnu Batutah di abad ke 14 dulu.

Ketiga dan terakhir pada sesi pelatihan supersingkat ini adalah paparan mengenai prinsip-prinsip penulisan berita, artikel (feature) dan perancangan buku. Adalah penting untuk memberikan pemahaman antara fakta dan opini, lebih pas dengan kasus obyek ekspedisi yang akan dilaksanakan. Karena itu instruktur pelatihan seyogianya mempelajari lebih dahulu obyek ekspedisi.

Setelah petualang Indonesia diakui dunia lewat ekspedisi-ekspedisi yang dilakukannya, semoga ke depan lahir penulis-penulis petualangan handal sekelas Sebastian Junger, Jon Krakauer, Edward Abbey, Edward Hoagland, Ernest Shackleton, Freya Stark, atau Wilfred Thesiger. Menjadi jendela untuk membuka mata dunia tentang betapa asiknya bertualang di Indonesia. Kecuali jika ekspedisi dilakukan hanya untuk kepuasan sendiri, seperti masturbasi.
sumber: Postingan Kang Nondi Eff
 

0 komentar:

Post a Comment