10/07/2013

Tangsel Kekurangan RTH

Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dengan luas 147 kilometer persegi, sangat kekurangan ruang terbuka hijau (RTH). Karena dari luas itu RTH yang tersedia hanya 18 persen dari seharusnya yakni 30 persen. Hal itu diakui Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Tangsel Rahmat Salam, saat ditemui di ruang kerjanya, akhir pekan lalu.
Meski masih mengalami kekurangan RTH, Pemkot Tangsel melalui BLHD terus berupaya melaksanakan UU nomor 26/2007 tentang Tata Ruang Wilayah. “Memang saya akui di Tangsel ini RTH-nya masih kecil, masih 18 persen dari seharusnya 30 persen,” tuturnya.
Rahmat menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) melalui BLHD, terus berupaya melaksanakan UU No 26/2007 tentang Tata Ruang Wilyah, bahwa di Tangsel ini RTH baru 18 persen dari seharusnya 30 persen,” ucapnya.
Karena itu, imbuh Rahmat, pihaknya berupaya menambah RTH atau minimal mempertahankan RTH yang sudah ada. “Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemkot Tangsel, di setiap kecamatan akan ada hutan kota,” ujarnya.
Dia mengatakan, kurangnya RTH dikarenakan masih banyak pengembang dan masyarakat di pemukiman padat, yang membangun perumahan atau tidak memperdulikan perpohonan. Mereka bangun tanpa memikirkan RTH yang ada, sehingga mengurangi RTH Tangsel.
Dengan seperti ini, pihaknya sepakat bersama dengan pengembang dan masyarakat lainnya untuk tidak membangun jalur hijaunya untuk perumahan.
Namun Rahmat optimis, jumlah RTH di Tangsel diawal 2014 sudah dapat mencapai 30 persen.“Saya optimis jika awal 2014, RTH kita sudah terpenuhi mencapai 30 persen. Ini dikarenakan sebelumnya situ yang ada di Tangsel belum masuk peritungan, sekarang sudah.
Sebanyak 9 situ di Tangsel sudah dapat dihitung dan masuk dalam RTH sehingga ada penambahan sekitar 5 persen dari situ yang ada,” jelasnya.
Tidak hanya itu, para pengembang sepakat untuk tidak membangun RTH namun membangun secara horizontal atau keatas. Sehingga tidak merusak RTH yang ada. “Saya yakin, pad pendataan akhir September mendatang oleh pihak kelurahan masing-masing, jumlah RTH diTangsel mengalami peningkatan bahkan bisa mencapai 30 persen,”optimisnya.
Optimistisnya dikarenakan, dari data di Wilayah Kecamatan Ciputat Timur, tepatnya di perbatasan Tangsel dengan Cinere. Jumlah RTH di Tangsel bertambah dengan adanya Hutan Kita dari perumahan Cinere Mas. “Pihak pengembang Cinere Mas, memasukan hutan kotanya menjadi hutan kota Tangsel dan jumlah luasnya pun cukup luas, sehingga bisa menambah RTH yang ada,”ungkapnya.
Rahmat mengatakan, dari jumlah RTH yang ada Kecamatan Ciptim-lah yang mempunyai jumlah RTH yang banyak. Dikarenakan mempunyai dua situ yakni Situ Bungur dan Situ Gintung dan untuk kecamatan yang paling minim RTHnya yakni Kecamatan Setu. “Kita berusaha, untuk terus meningkatkan atau menambah RTH di Kecamatan Setu, dikarenakan dari 7 Kecamatan yang ada, Setu paling minim,” jelasnya.
Sementara Pengamat Lingkungan Hidup Wahana Hijau Fortuna (WHF), Romly Revolvere merasa pesimis jika kekurangan RTH di Tangsel dapat terpenuhi. Karena selain sulit mendapatkan lahan untuk RTH, saat ini Pemkot Tangsel juga masih terus memberikan perijinan untuk pembangunan pemukiman baru dan pusat bisnis. Selain itu harga tanah yang tinggi, menghambat Pemkot untuk pengadaan tanah untuk kebutuhan RTH.
Menurutnya, solusi alternatif yang bisa dikembangkan Pemkot Tangsel adalah melakukan penegakan regulasi yang juga bisa memaksa pihak pengembang untuk menyediakan RTH privat. Selain itu, fasilitas-fasilitas publik yang masih menyisakan lahan kosong dimamfaatkan untuk RTH, karena selain mengejar pemenuhan kuota.
Hal lain yang harus diperhatikan Pemkot adalah soal pemerataan RTH di tiap-tiap wilayah, sehingga fungsi RTH bisa dinikmati seluruh masyarakat Tangsel.“Selain itu, publik pun harus diajak berpartisipasi aktif, beberapa program yang pernah dicanangkan Pemkot Tangsel. Seperti program penanaman pohon terus dilakukan, tidak terhenti dan terkesan hanya seremonial semata,”ungkapnya. (irm)

sumber: Tangsel Pos

0 komentar:

Post a Comment