15/09/2015

Situ di Tangsel Siap Disulap jadi Objek Wisata

TAPOS, PAMULANG – Situ atau rawa di Kota Tangsel akan disulap menjadi lokasi wisata. Pemkot Tangsel sudah mengajukan usulan itu ke pemerintah pusat. Saat ini ada tiga daerah resapan air itu sedang dinormalisasi.

Di Kota Tangsel terdapat sekitar 9 situ. Sejak 2014 hingga tahun ini sudah tiga situ dinormalisasi yakni, Situ Pamulang, Situ Ciledug di Pamulang, dan Situ Pondok Jagung (Rawa Kutuk) di Kecamatan Serpong Utara.

Sedangkan sejumlah situ lainnya belum direvitalisasi seperti tiga situ di Kecamatan Ciputat Timur yakni, Situ Rompong, Situ Legoso. dan Situ Bungur. Lalu Situ Parigi di Kecamatan Pondok Aren dan Situ Sasak Tinggi di Kecamatan Pamulang.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Tangsel Retno Prawati menegaskan wacana Pemkot Tangsel ke depan mengelola situ sebagai objek wisata bagi masyarakat, sehingga situ bukan hanya genangan air yang luas tapi banyak manfaat. Namun untuk mewujudkan itu butuh proses panjang yang harus dilalui.

“Kami dari Pemkot Tangsel sudah mencanangkan akan pemanfaatan situ dapat digunakan untuk objek wisata masyarakat. Tapi itu kan butuh proses secara bertahap dan berkelanjutan,” kata Retno.

Retno menegaskan bahwa proses panjang itu harus ada kesepakatan atau semacam perjanjian kerjasama antara Pemkot Tangsel dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Perlu diketahui kewenangan situ ada di tangan BBWSCC sehingga pemerintah daerah tidak punya hak apapun.

“Makanya MoU yang kita tunggu belum ditanda tangani. Ini yang sedang kita kejar ke Kementerian MoU dulu,” tambah Retno.

Kerena kewenangan ada di pusat, maka Pemkot Tangsel berusaha cerewet meminta agar diperhatikan secara serius keberadaan situ. Jangan sampai situ yang ada mengalami penyempitan atau pendangkalan disebabkan sedimentasi.

Reno menambahkan hal paling utama terkait keberadaan situ adalah untuk areal konservasi, areal pengamanan serapan air, saat musim panas agar tidak kekeringan juga saat di musim hujan agar tidak terjadi banjir.

“Banyak macam manfaatnya jika situ dimaksmialkan dengan baik, bukan hanya sebagai tempat rekreasi tapi banyak hal utama sebagai penampungan saat terjadi musim hujan agar tidak banjir itu salah satu hal yang nyata dan dapat dirasakan masyarakat. maka kami mengharapkan jagalah situ sebaik mungkin untuk keberlangsungan kehidupan bersama,” pinta Retno.

Warga Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Arpan mengatakan setiap tahun Situ Bungur di wilayahnya dimanfaatkan warga untuk festival. “Kami sebagai warga Pondok Ranji berharap situ yang lain dapat diadakan acara festival, tujuannya untuk mengajak kepada masyarakat agar bisa merawat situ di lingkungan sekitar,” katanya.(din)

24/08/2015

Sejumlah Situ Tak Berfungsi, Pemkot Tangsel Kritik Pemerintah Pusat

Sejumlah wilayah di Tangerang Selatan mulai mengalami kekurangan air sebagai dampak kemarau panjang. Menyikapi hal itu, Dinas Bina Marga Dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Tangerang Selatan (Tangsel) mengkritik Pemerintah pusat yang dinilai lamban dalam bertindak menangani ketidakberfungsian di sejumlah situ.
Sebagaimana dijelaskan Ade Suprizal, Kabid Sumber Daya Air dari Dinas Bina Marga Dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Tangsel saat diwawancarai oleh Okezone pada Rabu 19 Agustus 2015 sore, di kantornya di Jalan Pulau Seribu No 1, Serpong, Tangsel, Menurutnya, Pemkot Tangsel sebenarnya sudah mengajukan Memorandum Of Understanding (MOU) dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sejak 2014 lalu atau di era pemerintahan SBY. Namun, hingga kini belum ada keputusan dari Kementerian yang berubah menjadi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) itu.
"Sejak 2014 MOU tentang pengelolaan sejumlah Situ sudah kita serahkan ke Kemen PU," kata Ade.
Dalam MOU itu disebutkan, Pemkot Tangsel meminta untuk diberikan kewenangan lebih dalam mengelola sejumlah Situ yang ada di Tangsel. Karena selama ini kewenangan untuk pengelolaan itu sepenuhnya hanya dimiliki oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).
Ia menambahkan, kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Tangsel dikarenakan kurang berfungsinya situ-situ yang ada. Sehingga, proses kanalisasi untuk resapan air tidak maksimal.
"Saat ini Tangsel punya sembilan situ, sebagian besar kondisinya tak layak dijadikan wadah untuk daya tampung resapan air," ungkapnya.
Sebenarnya, kata dia, sudah sejak lama Pemkot Tangsel yang diwakili oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Tangerang ingin melakukan Proses Normalisasi sejumlah Situ resapan. Namun terbentur dengan aturan.
Aturan tersebut menyebutkan bahwa pengelolaan semua situ mutlak berada di tangan pemerintah pusat yang diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). "Semua kebijakan pengelolaan Situ ada di BBWSCC, itulah alasan kenapa kami mengajukan MOU itu," Ujarnya. (fal)

18/08/2015

Fenomena El Nino, Bina Marga: Cadangan Air di Tangsel Aman

Fenomena El Nino yang mempengaruhi iklim di dunia termasuk di Indonesia menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah Indonesia diantaranya pulau jawa, Sulawesi selatan, Lampung, Bali, NTB dan NTT.
Melihat peristiwa alam tersebut, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air melalui Kasie Bidang Pembangunan, Ali Akbar ST mengatakan untuk saat ini Tangsel masih dalam kondisi aman dan pasokan air kepada masyarakat tidak ada kendala.
“Insya Allah, cadangan air aman karena ada tujuh situ di Tangsel yang menyimpan atau menampung air yakni Situ Gintung, Situ Pamulang, Situ Parigi, Situ Pondok Jagung, Situ Legoso, Situ Bungur dan Situ Rompong, “ Kata Ali Akbar kepada Beritatangsel.com saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Pria yang akrab disapa Bang Ali ini juga mengatakan, Pemkot Tangsel memberlakukan peraturan dimana setiap orang yang mendirikan bangunan harus menyediakan resapan air. Selain itu, Ali juga berharap kepada masyarakat untuk berhemat menggunakan sumber daya air berdasarkan kebutuhan saja.
“Gunakan air secara bijak, seperlunya saja atau berdasarkan kebutuhan dan semoga musibah alam ini dapat berakhir, “ harap pria lulusan Sarjana Teknik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

24/06/2015

Situ di Depok Diharapkan Jadi Destinasi Wisata

DEPOK, (PRLM).- Komisi B DPRD Kota Depok menilai pengelolaan situ di Kota Depok perlu dilakukan melalui pendekatan pariwisata. Pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah saat ini dinilai tidak optimal.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, Farida Rahmayanti mengatakan, pihaknya saat ini telah melakukan kajian naskah akademis tentang kemungkinan rancangan peraturan daerah mengenai situ yang dikelola dengan pendekatan wisata. Menurutnya, dengan mengubah 23 situ yang ada di Kota Depok, bisa mencegah kasus hilangnya 5 situ di Depok terulang kembali. Dia mengklaim, pertemuan rutin dengan pemda dilakukan untuk membahas naskah akademis tersebut.
"Diharapkan pengelolaan situ dengan pendekatan pariwisata, kita tidak kecolongan lagi dalam urusan situ ini. Pengelolaannya bisa menjadi lebih optimal pula," katanya, Senin (8/6/2015).
Menurut dia, pengelolaan situ melalui pendekatan pariwisata bisa berdampak kepada semakin besarnya anggaran pengelolaan. Dia mengilustrasikan anggaran untuk Taman Hutan Taya Depok yang saat ini dibiayai dari tiga sumber, yakni bantuan pusat, bantuan provinsi, dan APBD Pemkot Depok. Sementara selama ini, setiap situ mendapatkan biaya pemeliharaan berupa rehabilitasi saja.
Dia menuturkan, sedang merancang agar Situ Cilodong dijadikan sebagai tempat destinasi wisata. Pembahasan Situ Cilodong juga bersama-sama dengan pembahasan naskah akademis situ sebagai destinasi wisata. Menurutnya, pengubahan situ menjadi destinasi wisata dilakukan bertahap.
"Tidak semua situ secara sekaligus dibuat sebagai destinasi wisata. Untuk Situ Cilodong saat ini juga mulai ditempatkan alat berat untuk membenahinya," ujar dia.
Adapun mengenai kelanjutan 5 situ yang tidak jelas keberadaannya, namun tetap dimasukkan dalam Perda RTRW. Dia mengatakan, tidak mempermasalahkannya. Soalnya, masuknya situ-situ itu dalam Perda RTRW telah melalui kesepakatan antara pemerintah pusat dan daerah. Namun, dia mengaku sangsi bila dalam perencanaan, di lokasi kelima situ akan dikembalikan fungsinya. Menurut dia, di beberapa lokasi situ saat ini telah berdiri perumahan.
"Saya tidak tahu menahu tentang kajian teknisnya. Saya perlu melihat dulu bila memang ada rencana membalikkan fungsinya. Sangat sulit saya pikir untuk melakukan hal tersebut," ujarnya.
Dia mengatakan, lebih baik kelima situ tersebut dijadikan pelajaran agar kedepannya Pemkot Depok tidak kecolongan lagi. "Sekarang, lebih baik persoalannya jangan berkutat di lima situ yang hilang, namun beralih ke pengelolaan situ-situ yang masih ada," ujarnya. (Muhammad Ashari/A-108)***

Sumber: Pikiran Rakyat